Testimoni Fenny Angkatan 258 (September 2017) [Tulisan]

29 November 2017 zhenqi 0 Comments

Nama : Fenny

Usia : 28 Tahun

Keluhan Kesehatan : Cidera bagian pinggang hingga pangkal paha sebelah kiri

Angkatan : 258 / September 2017

“Berjodoh” mungkin satu-satunya kata yang pas untuk menggambarkan pertemuan dengan meditasi Zhen Qi Yun Xing. Hampir di penghujung akhir tahun 2012 saat mama sakit pertama kalinya saya melewati beberapa hari di Rumah Sakit karena beliau dirawat inap, sejak itu saya memperoleh info tentang penyembuhan melalui meditasi. Saya pun teringat satu hal akan pernyataan bahwa disetiap tubuh manusia terdapat “urat penyembuh” (yang juga sering diibaratkan sebagai dokter pribadi), bagi saya hal tersebut sangat masuk akal. Dengan prioritas utama kesehatan mama, lalu saya mulai mencari-cari info tentang meditasi yang dapat membantu penyembuhan. Diiringi jalannya waktu, apa yang saya cari tidak membuahkan hasil maksimal.

Setelah setahun Alhamdulillah kondisi mama makin membaik, sempat terlupakan dengan meditasi dan segala alternatif lain yang dapat membantu menyembuhkan penyakit. Sampai di tahun 2017 ini kembali mama harus dirawat di Rumah Sakit. Saat itu juga tepat hari dimana mama saya sudah diperbolehkan kembali pulang ke rumah, sambil memikirkan alternatif lain selain perawatan dari dokter untuk menunjang kesehatan mama, ingatan saya kembali jelas tentang meditasi. Bermodalkan HP dan kuota internet tentunya sangat membantu mencari jawaban dari tahun 2012 yang masih belum mendapat jawaban sesuai keinginan bahkan sampai sempat terlupakan.

Saya yakin rahmat dari Allah swt merupakan pemeran penting yang membuka segala kemudahan. Tanpa memakan banyak waktu seperti pencarian pertama kali, informasi yang saya sangat ingin tahu jelas selama beberapa tahun lalu terjawab sudah. Sekali lagi kata “berjodoh” adalah pas digunakan untuk situasi seperti tersebut yang telah saya alami. Setelah mendapat jelas lebih dari yang diinginkan mengenai informasi meditasi penyembuhan Zhen Qi Yun Xing tanpa pikir panjang saya sampaikan langsung ke mama. Alhamdulillah semuanya benar-benar seperti sudah diatur tertata rapi oleh yang Kuasa, saya mendapatkan informasi meditasi tepat tiga hari sebelum mulai pelatihan pertama yang dibuka setiap bulannya.

Sampai akhirnya mama dan saya mengikuti pelatihan meditasi yang sebenarnya tujuan utama meditasi ini untuk penyembuhan penyakit beliau. Tapi beliau mengajak untuk ikut katanya supaya saya bisa menjaga kesehatan juga. Pelatihan berjalan rutin selama sepuluh hari dengan waktu pertemuan empat jam disetiap harinya. Merasa tidak ada keluhan penyakit yang serius, tapi saat mengikuti pelatihan meditasi hari pertama sekujur tubuh rasanya sakit sekali padahal dengan hanya duduk di kursi sambil tarik nafas dan buang nafas sesuai instruksi yang disampaikan oleh pelatih. Di hari kedua saya lebih merasakan sakit yang lebih dahsyat sampai rasanya hampir ingin teriak menangis. Sebelumnya di hari pertama Ibu Ambar sebagai instruktur meditasi berkata bahwa penyakit waktu kita kecil yang mungkin dibilang sudah sembuh bisa kembali terdeteksi saat melakukan meditasi, karena meditasi membuka semua saluran-saluran yang tersumbat dalam tubuh kita. Kebetulan waktu masih kecil saya pernah beberapa kali terjatuh duduk, saat meditasi rasa sakit dahsyat yang saya rasakan berpusat di bagian sebelah kiri yaitu dari pinggang merambat ke bokong sampai ke pangkal paha.

Hari demi hari mengikuti pelatihan meditasi berbagai macam yang dirasakan oleh tubuh menjadi santapan rutin selama empat jam mau tidak mau harus dinikmati. Tapi hasil dari itu semua saya merasakan perkembangan baik dengan baru empat hari bermeditasi, penglihatan semakin jelas dan kedua mata yang sebelumnya sering tiba-tiba berair sekarang sudah tidak pernah lagi. Kemudian kembali saya merasakan perkembangan di hari keenam dimana setiap mengendarai motor dengan jarak jauh, rasanya bokong sampai ke bagian paha sebelah kiri biasanya seperti duduk lama di atas tumpukan besi sehingga terasa pegal dan sakit. Namun kali ini saat mengendarai motor saya tidak lagi merasakan sensasi seperti itu. Dengan merasakan adanya manfaat nyata bermeditasi, saya lebih memilih merasakan sakit saat rutin meditasi yang tanpa efek samping daripada rasa sakit dihilangkan sesaat dengan rutin meminum obat tapi kemudian tinggal menunggu efek sampingnya yang bisa dikatakan horror untuk kesehatan tubuh kedepannya. Tapi jangan khawatir bagi yang ingin ikut pelatihan meditasi Zhen Qi Yun Xing karena selama ikut meditasi tidak melulu dikunjungi rasa sakit, seperti di hari ketujuh saya merasakan “keajaiban indah” yang disebut dengan Dung Gwan. Sampai masuk hari terakhir pelatihan, alarm yang tidak pernah terlewatkan dari Ibu Ambar yaitu harus menjaga disiplin meditasi tidak hanya di tempat pelatihan saja jika kesembuhan yang jadi tujuan utama. Setelah mendapat pelatihan meditasi sepuluh hari, saya pun masih terus melanjutkan meditasi di rumah.

Rasa syukur saya yang tak terhingga pada Allah swt yang selalu berlimpah kasih sayang untuk umat-Nya. Terima kasih juga untuk Ibu Ambar dan Bapak Tjipto yang telah memberikan modal berupa pelatihan meditasi, membimbing dengan telaten, dan mau berbagi pengalaman-pengalaman bermanfaat. Salut dengan Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang menjadi teman berlatih meditasi selama sepuluh hari, mereka dengan berbagai macam keluhan penyakit berbeda-beda tapi semangat-semangatnya sangat luar biasa sampai mampu membuat “kelas ceria” setiap harinya dan itu akan terus saya ingat, terima kasih. Mudah-mudahan kita senantiasa terus dibimbing Tuhan Yang Maha Esa agar mudah meraih dan menjaga segala yang menjadi tujuan dalam hidup, salah satunya adalah kesehatan.

Sharing via Form Testimoni Website

Share on