Testimoni Maria Catur | Kanker Mulut Rahim

5 July 2018 zhenqi 0 Comments

Nama : Maria Catur

Umur : 39 Tahun

Alamat : Jl. Tarian Raya Barat c8/6, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Telp. : 4505260

Penyakit yang diderita : Kanker Mulut Rahim

Pekerjaannya saya sebelumnya adalah pengajar (dosen) di suatu universitas di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tekanan kerja dan situasi tempat kerja yang tidak nyaman menimbulkan stress yang luar biasa bagi diri saya. Bahkan sepatah-kata pun cerita untuk mengurangi beban hati tidak pernah terlontar keluar dari mulut saya, meski kepada sahabat dekat sekalipun. Kemudian saya pergi kepada seorang Bruder, beliau mengatakan kepada saya bahwa saya terkena kanker. Dalam kondisi pikiran yang kacau dan tidak menentu saya nekat ke Jakarta untuk memeriksakan diri. Di rumah dilakukan biopsy dan CT Scan yang merupakan prosedur pemeriksaan, hasilnya menunjukkan bahwa saya terkena kanker mulut rahim stadium IIB. Pada saat itu juga berbagai macam pikiran muncul di benak saya, perasaan marah dan tidak menentu terus menerus berkecamuk di hati saya. Rasanya semua tubuh saya terasa sakit, untuk dipakai berjalan kaki agak lama badan rasanya sakit, bahkan dipakai untuk dudukpun juga terasa sakit. Di tengah kekalutan tersebut, saya ditawari keluarga untuk belajar meditasi Zhen-Qi Yun Xing, suatu hal yang sebelumnnya sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun dukungan dan dorongan mental yang secara terus menerus diberikan oleh keluarga besar saya, membuat saya tergerak untuk berlatih. Tidak ada salahnya, piker saya waktu itu. Latihan meditasi Zhen-Qi Yun Xing saya lakukan di rumah karena belum ada kelas yang buka saat itu. Pada awal-awal latihan, sensasi yang timbul amat luar biasa, dada dan pinggang rasanya diikat kencang sekali sedangkan perut rasanya seperti dikerok, luar biasa sakitnya! Akibat penyakit kanker mulut rahim ini, menstruasi saya berlangsung secara terus-menerus setiap hari tanpa henti. Latihan meditasi yang saya jalani juga menimbulkan efek tertentu yang luar biasa, yaitu setiap buang air kecil keluar gumpal-gumpalan sarah yang besarbesar dan berbau tidak enak, selain itu juga ikut keluar selapu-selapu putih yang saya sendiri tidak tahu menahu apa itu sebenarnya. Dengan semangat dan tekad untuk sembuh dan sedikit demi sedikit merasakan manfaat positifnya maka latihan saya jalankan secara rutin, satu hari kurang lebih 8 jam. Selama melakukan latihan meditasi Zhen-Qi Yun Xing ini saya tidak mengkonsumsi obat-obat dari dokter, hanya sekedar vitamin saja. Saya juga terus-menerus mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran terutama kacang-kacangan, sedang pantangannya adalah daging merah (sapi) dan ikan tidak bersisik. Latihan secara rutin membuat siklus menstruasi saya menjadi teratur dan normal dengan sendirinya. Setelah berlatih secara rutin selama 7 bulan, barulah saya berani untuk check-up ke dokter, biopsy dan CT Scan dilakukan oleh pihak rumah sakit namun hasilnya ternyata di luar dugaan. Dokterpun sampai heran karena hasilnya menunjukkan bahwa penyakit yang saya derita hanyalah polip kecil di mulut rahim dan tidak berbahaya sama sekali. Mendengar berita gembira itu saya tidak ingin cepat puas dan untuk itu saya sampai saat ini masih terus berlatih meditasi Zhen-Qi Yun Xing sekitar 6 atau 8 jam setiap harinya. Meski kadang masih terasa agak sakit namun beban stress saya sudah jauh berkurang. Perasaan saya juga sudah lebih lega. Beban pikiran, terus dan perlahan-lahan memudar seiring dengan pikiran-pikiran positif yang terus muncul menguatkan diri saya. Meski terpaksa perkejaan saya telah saya tinggalkan demi mencari kesehatan yang prima dan demi kondisi tubuh saya normal sehat kembali. Kondisi phisik saya jauh membaik: berat badan kembali naik ( 10 kg ), rambut kembali lebat, kulit yang tadinya bersisik kembali normal. Puji Tuhan, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua dukungan dan dorongan moril yang diberikan kepada diri saya. Tanpa ada latihan meditasi Zhen-Qi Yun Xing dan doa yang terusmenerus yang saya lakukan mungkin semua anugerah ini tidak dapat saya nikmati.

Share on